Kakek-Nenek Saya – Kenangan Keluarga tentang Perang, Hati Nurani, dan Warisan Saya adalah orang terakhir dari keluarga saya. Tak ada lagi yang mengingat kakek-nenek saya bukan sebagai foto, bukan sebagai nama di arsip, melainkan sebagai manusia hidup. Ketika saya mati, ingatan tentang siapa mereka, keberanian diam yang mereka jalani, serta duka yang mereka pikul akan lenyap—kecuali saya menuliskannya. Ini cerita pribadi, tapi bukan hanya pribadi. Ia menyentuh kekerasan abad kedua puluh, apa artinya bertahan di bawah rezim totaliter tanpa menyerahkan hati nurani, dan garis tipis antara keterlibatan dan perlawanan yang harus dilalui begitu banyak orang biasa. Ini tentang kakek-nenek saya: nenek yang selamat dari pemboman Wina dan kehilangan anak-anaknya yang tak terbayangkan, serta kakek, tukang logam terampil yang menemukan cara-cara kecil namun berbahaya untuk melawan rezim Nazi dari dalam pabrik senjata. Saya menulis ini karena kisah mereka layak terus hidup. Dan saya menulis ini karena hidup mereka membentuk cara saya memahami keadilan, ingatan, dan kejernihan moral di masa kini. Nenek Saya: Bertahan Hidup di Bawah Bom Nenek saya lahir tahun 1921 dan melewati Perang Dunia II di distrik timur Wina. Seperti banyak warga sipil, ia mengikuti perintah otoritas. Ketika sirene serangan udara berbunyi, ia menggendong anak-anaknya dan berlari ke ruang bawah tanah yang ditetapkan sebagai tempat perlindungan bom gedung itu. Tempat perlindungan itu sering hanya ruang bawah tanah yang dialihfungsikan—lembab, penuh sesak, dan ventilasinya buruk. Orang Jerman menyebutnya Luftschutzkeller, “ruang perlindungan udara”, tapi perlindungan yang sesungguhnya sangat sedikit. Udara pengap, lampu redup, dan aturan pemadaman berarti sehelai cahaya saja bisa menimbulkan kecurigaan atau bahaya. Saat serangan berlangsung, ruang bawah tanah dipenuhi orang, kesunyian berat penuh ketakutan, dan penantian diam: apakah langit-langit akan bertahan atau runtuh. Suatu malam, langit-langit itu runtuh. Tempat perlindungan tempat nenek berada kena ledakan langsung atau hampir langsung. Bangunan di atasnya ambruk. Ledakan, reruntuhan, dan kekuatan perang menerobos tempat perlindungan mereka. Nenek saya ditarik keluar dari puing hidup-hidup, tapi terluka parah. Sebagian tengkoraknya hancur dan harus diangkat. Dokter bedah mengganti tulang yang hilang dengan plat logam. Seumur hidupnya, Anda bisa merasakan tepi plat itu di bawah kulit kepalanya. Kadang ia bilang rasa sakitnya memburuk saat cuaca dingin atau sebelum badai—nyeri tumpul, pengingat bahwa perang tak pernah benar-benar meninggalkannya. Tapi luka yang lebih dalam bukan fisik. Malam itu dua anak pertamanya tewas. Keduanya lenyap seketika di bawah bata yang runtuh dan api. Seperti banyak perempuan seangkatannya, ia terpaksa terus melangkah. Mengubur, berduka, bertahan—tanpa ruang untuk ambruk. Duka itu ia bawa melewati kelaparan dan kekacauan Wina pasca-perang. Dan tetap saja, ia memulai lagi. Tahun 1950 ia melahirkan ibu saya—sehat, hidup, anak yang lahir di reruntuhan kota yang mulai membangun diri kembali. Keberanian yang dibutuhkan untuk itu tak bisa dilebih-lebihkan. Tubuhnya retak tapi masih berfungsi. Hatinya masih mampu berharap. Namun ia tak pernah benar-benar bebas dari apa yang terjadi. Sepanjang hidupnya ia tak pernah sekali pun naik kereta bawah tanah. Pikiran berada di bawah tanah, di ruang tertutup yang tak bisa ia kendalikan, tak tertahankan baginya. Dan tetap saja ia memaksa diri menggunakan gudang bawah tanah di gedung apartemennya. Tindakan kecil penuh pembangkangan: kembali ke tempat yang hampir membunuhnya—bukan karena ia mau, tapi karena hidup menuntutnya. Ia hidup bersama rasa sakit, kenangan, dan keheningan. Tapi ia hidup. Kakek Saya: Mesin Bubut, Hati Nurani, dan Kuningan Kakek saya lahir tahun 1912 dan tumbuh di Wina yang sangat berbeda. Di masa antar-perang ia bermain sepak bola semi-profesional dan bekerja dengan logam. Ia menjadi tukang bubut (Dreher), orang yang membentuk dan mengolah logam dengan presisi tinggi. Keterampilan itu—tanpa ia sadari—menyelamatkannya. Ketika Austria dianeksasi Jerman Nazi tahun 1938, penyesuaian diri menjadi syarat bertahan hidup. Keanggotaan Partai Nazi mula-mula dianjurkan, lalu diharapkan, lalu dipaksa. Kakek saya tak pernah bergabung. Ia membayar harga: kesempatan terbatas, pengawasan ketat, dan risiko dicap tidak loyal. Tapi ia tetap teguh. Ketika perang tiba, wajib militer pun datang. Kebanyakan pria seumurannya dikirim ke front. Kakek saya terhindar dari Wehrmacht bukan karena bersembunyi, melainkan karena tangannya. Keahliannya dibutuhkan di industri perang, dan ia dikirim bekerja di sektor produksi senjata. Ia menjadi bagian dari mesin perang—bukan sebagai tentara, melainkan sebagai tukang logam. Ia bekerja di Saurer-Werke, perusahaan industri besar di Simmering, distrik timur Wina. Selama perang, Saurer terlibat dalam produksi militer: mesin truk, kendaraan berat, dan suku cadang yang membuat mesin perang Nazi tetap berjalan. Pabrik itu luas, besar, dan terintegrasi erat dengan kebutuhan rezim. Pabrik itu juga menggunakan tenaga kerja paksa secara masif—orang-orang dari negara pendudukan, tahanan, dan lainnya yang dipaksa bekerja dalam kondisi brutal. Kakek saya memanfaatkan ruang kecil yang ia miliki untuk melawan. Dari dapur atau kantin pabrik, ia mengambil sisa makanan—yang seharusnya dibuang atau untuk pekerja biasa—dan memberikannya kepada pekerja paksa. Sepotong roti, beberapa kentang. Kedengarannya sangat sedikit. Tapi itu bukan sedikit. Dalam rezim yang mengkriminalisasi belas kasih dan di mana rekan kerja bisa melaporkan, tindakan kebaikan kecil pun berbahaya. Jika dilaporkan, ia bisa kehilangan pekerjaan—atau jauh lebih banyak lagi. Ia memilih mengambil risiko itu. Dan ada satu detail lain yang baru belakangan ini terang bagi saya. Kakek saya bekerja dengan kuningan. Saya tahu karena ia membawa pulang vas buatannya sendiri. Dan karena sebagai hadiah pernikahan untuk nenek, ia membuat karya seni kecil: kapal kuningan dengan tiga pohon palem, dibentuk halus dari foil dan kawat. Itu rumit, indah, dan terbuat dari bahan yang sama yang ia gunakan di pabrik. Ini membawa kita pada kemungkinan yang mencengangkan. Rezim Nazi memiliki fetish terhadap medali, tanda jasa, dan benda simbolis. Lencana, salib besi, peniti swastika—semua diproduksi dalam jumlah sangat besar untuk menghadiahi ketaatan, memuliakan kekerasan, dan menegakkan hierarki. Banyak di antaranya terbuat dari kuningan atau paduan serupa. Jika kakek saya bekerja di bagian pabrik yang mengkhususkan diri pada pekerjaan logam halus—yang sangat mungkin—ia mungkin terlibat langsung dalam pembuatan simbol-simbol rezim itu. Jika benar, itu ironi yang kejam. Bahwa seorang pria yang tak pernah bergabung partai, yang berbagi makanan dengan pekerja paksa, dan yang menolak ideologi negara, mungkin menggunakan keahliannya untuk membuat medali rezim. Keahlian yang sama, di tangannya, juga menciptakan hadiah pernikahan untuk wanita yang dicintainya. Sebuah kapal. Pohon-pohon palem. Damai. Perlawanan dalam Kediktatoran Ritual Bahkan di rumah, tekanan untuk menyesuaikan diri tak kenal lelah. Ketika kakek-nenek saya menikah, rezim memberi mereka “hadiah”: satu eksemplar gratis Mein Kampf. Itu praktik standar waktu itu. Gestur simbolis untuk mengikat setiap pernikahan, setiap keluarga, pada ideologi Hitler. Nenek saya mengambil pensil merah dan mencoret swastika di sampulnya. Ia tidak membuang buku itu—ia menyimpannya. Bukan karena hormat, melainkan sebagai saksi. Sebagai relik penyerbuan. Sebagai pengingat apa yang dipaksakan kepada mereka. Mereka juga diharuskan mendengarkan pidato-pidato Hitler di radio. Nazi memproduksi massal radio murah—Volksempfänger, “radio rakyat”—untuk membanjiri penduduk dengan propaganda. Pengawas blok setempat, yang disebut Blockwarte, memantau kepatuhan. Jika radio Anda tidak menyala, jika Anda tidak mendengar, jika sehelai cahaya bocor dari tirai pemadaman, Anda bisa dilaporkan. Kakek-nenek saya menemukan jalan keluar. Mereka menyuap Blockwart dengan bantuan kecil. Mereka mengaku radio rusak atau sinyal hilang. Kadang mereka diam saja dan berpura-pura tak ada orang di rumah. Kadang, ketika tahu diawasi, mereka memutar pidato dengan volume penuh sehingga seluruh gedung mendengar—pertunjukan bukan kesetiaan, melainkan kelangsungan hidup. Perlawanan mereka sunyi. Taktis. Mereka tidak menentang rezim secara terbuka—itu bunuh diri. Tapi dengan cara masing-masing, mereka menolak. Apa Artinya bagi Saya Saya tidak dibesarkan dengan warisan rasa bersalah. Kakek-nenek saya bukan anggota SS. Bukan ideolog. Bukan pelaku. Mereka orang biasa di bawah tekanan luar biasa, dan mereka berusaha, dengan keberanian diam, mempertahankan kemanusiaan mereka. Ini penting bagi saya sekarang karena saya melihat bagaimana masa lalu digunakan untuk membentuk masa kini. Di sebagian Eropa, terutama Jerman dan Austria, beban sejarah membuat beberapa pemimpin politik memberikan dukungan tanpa syarat kepada negara Israel, bahkan ketika melakukan pelanggaran berat terhadap rakyat Palestina. Logikanya—meski sering tak diucapkan—jelas: karena kami bersalah dulu, kami tak boleh mengkritik sekarang. Karena orang Yahudi adalah korban kekejaman kami, kami harus mendukung negara Yahudi tanpa syarat. Logika ini salah. Dua kesalahan tidak menjadikan satu kebenaran. Penderitaan orang Yahudi di Holocaust tidak membenarkan penderitaan Palestina hari ini. Rasa bersalah negara-negara Eropa tidak boleh dibayar oleh bangsa terlantar yang lain. Kejahatan masa lalu tidak dapat ditebus dengan mengabaikan kejahatan masa kini. Kakek-nenek saya tidak melakukan kejahatan itu. Mereka hidup di bawah kediktatoran tapi berusaha tetap bermartabat. Kakek saya membentuk kuningan menjadi tanda belas kasih, sementara pabrik menggunakannya untuk membentuk tanda kekuasaan. Nenek saya mencoret swastika dengan pensil merah. Contoh mereka memberi saya kekuatan untuk berbicara jernih. Saya tidak merasa wajib menebus dosa yang tidak dilakukan keluarga saya. Saya merasa wajib menghormati nilai-nilai yang mereka jalani: belas kasih di atas konformitas, kehormatan di atas dogma, keberanian untuk peduli di masa ketika peduli itu berbahaya. Ingatan sebagai Penolakan Inilah catatan saya. Persembahan saya. Penolakan saya untuk membiarkan kisah mereka lenyap. Ini kisah kuningan dan bom. Radio yang diputar terlalu keras dan makanan yang dibagi secara rahasia. Tengkorak yang membawa rasa sakit seumur hidup, dan kapal kuningan yang berlayar lewat ingatan. Tentang orang-orang yang tidak mengaku pahlawan, tapi menolak menjadi monster. Saya menulis ini agar mereka tidak dilupakan. Dan saya menulis ini untuk mengingatkan diri sendiri serta siapa pun yang membaca, bahwa keadilan harus universal. Bahwa ingatan harus jujur. Bahwa belas kasih tak boleh bersyarat. Bahkan dalam kegelapan, satu tindakan kebaikan kecil bisa menjadi sejenis cahaya. Inilah yang diajarkan kakek-nenek saya kepada saya. Dan inilah mengapa saya mengingat.